Pisces's BLog: Cerpen

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

18 Oktober 2009

Antar Aku dan Guruku

Bel tanda istirahat udah usai, menjerit. Anak-anak berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Kecuali aku yang emang ngga’ keluar kelas waktu istirahat tadi. Kini di kelasku lagi ramai membicarakan guru baru yang akan menggantikan pak Slamet, guru Sejarah.

“Yang menggantikan pak Slamet katanya cewek lho, baru lulus kuliah cantik pula” salah satu komentar anak laki-laki yang seperti ayam mendapatkan jagung, makanan kesukaannya.

“Kita lihat ja ntar, ya lumayanlah akhirnya kita bisa dapat bu guru soalnya bosan di ajarin ma bapak guru terus” temannya seolah tak sabaran juga menanti guru baru itu.

Tak berapa lama sesosok perempuan tinggi semampai, dengan senyum ramahnya masuk ke ruangan kelasku.

“Assalamu’alaikum! anak-anak maaf ya kalu kedatangan ibu sedikit terlambat” itulah kata yang terucap pertama masuk ke kelasku.

“Wa’alaikum salam”! jawabku dan teman-teman yang lain serentak.

“Suit-suit” sebagian ada yang bersiul untuk menggoda perempuan muda itu. Benar kata teman-teman dia tampak masih muda, maklum usianya mungkin ngga’ lebih dari 5 tahun di atasku. Ehm, lumayan cantik juga.

“Baiklah langsung kita mulai belajarnya!” masih dengan senyum yang sekarang keliatan menggoda aku dan anak-anak cowok lainnya.

“Kemarin pak slamet ngajarnya sampai bab apa?” tanyanya pada salah satu murid yang duduk paling depan.

‘Bu, jangan ngajar dulu! Kan belum perkenalan” celetuk salah satu temanku yang duduk paling pojok di bangku belakang.

“OK!. Perkenalan dulu, nama ibu Nadia Dwi Indahsari. Kalian panggil aja Bu Nadia.”

“Ooo, Bu Nadia” serentak anak-anak manggil ibu itu.

***

Sudah sebulan guru baru itu mengajar di sekolahku. Suatu hari aku mendengar kabar kalau ibu guru itu sakit. Anak-anak satu kelasku langsung punya inesiatif untuk menjenguknya. Maklumlah dia kan udah jadi guru favorit sekarang. Tanpa ragu aku pun ikut bersama mereka ke rumah Bu Nadia dengan membawa buah-buahan yang katanya baik di konsumsi untuk orang sakit dengan menggunakan uang hasil urunan teman-teman sekelas.

Nyampeknya di rumah ibu itu, kami langsung di sambut hangat oleh perempuan separuh baya yang tak lain adalah ibu dari Bu Nadia. Dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya dia mengantarkan kami ke ruang tamu dalam rumahnya. Tak berapa lama Bu Nadia keluar dengan memaikai jaket dan masih nampak pucat namun dia tetap menemui kami dengan senyum khasnya. Terlihat kegembiraannya melihat murid-muridnya ada yang mengunjunginya.

“Gimana kabarnya, bu?” pertanyaan yang aku sendiri ngga’ nyangka bisa aku ucapkan.

“Alhamdulilah sekarng udah mendingan cuma butuh istirahat ja. Mungkin lusa ibu akan masuk sekolah lagi” jawabnya sambil menatap ke arahku.

Entah, dia masih nampak cantik meskipun tanpa polesan lipstick merah jambu yang biasanya menghiasi tiap harinya. Ah, bisa aja aku ini menilai ibu itu. Persaan berkecamuk, menuntun hati dalam keresahan.

***

“Kami pamit pulang dulu bu, semoga ibu cepat sembuh’ aku mewakili teman-teman mengucapkan kata-kata yang biasa di ucapkan kala mengunjungi orang sakit.

Entah, hari ini aku selalu ingin menjadi orang yang paling ingin memberikan perhatian sama ibu Nadia. Dia mengantar kami sampai di depan rumahnya. Waktu melewati ruang tamu ada sesuatu yang sedari tadi tidak aku sadari keberadaannya. Boneka itu seperti tak asing menurutku, dia terlihat duduk manis di atas kursi yang letaknya tak jauh dari tempat duduk kami tadi. Mungkin ini cuma kebetulan. Sudahlah, tidak penting buatku untuk tau tentang boneka itu.

“Ternyata ibu ini suka sama boneka juga” gumamku sambil menyembunyikan senyum yang hampir saja anak lain mengiranya aku sedikit aneh waktu itu.

***

Semakin hari aku semakin dekat saja dengan Bu Nadia. Maklum aku menjadi orang kepercayaannya, dimana tiap pengumpulan tugas pasti aku yang bertanggung jawab untuk kemudian aku letakkan di meja kerjanya. Selain itu aku jadi tambah giat mempelajari sejarah. Pelajaran yang menurutku sama sekali tidak menarik dulu, tapi sekarang jam pelajaran sejarah akan menjadi jam mata pelajaran yang akan selalu aku harapkan ada bahkan kalu perlu tiap hari. Ah, ibu itu sudah menumbuhkan semangat belajarku.

Sekarang pikiranku pun tak lepas dari ibu cantik itu, jika aku boleh memilih aku ingin dilahirkan sama dengan ibu itu agar terbebaslah perbedaan usia yang mungkin akan menjadi halangan utama atas perasaanku sekarang. Meski tak mungkin menurutku Bu Nadia mau memikirkanku yang masih anak ingusan ini, dia pasti lebih memilih cowok yang sepadan dengan dia yang sama-sama bisa berfikir dewasa. Tapi, siapa cowok yang beruntung itu. Sempat aku ingin menyakan hal itu langsung ke orangnya, tapi aku pasti seperti orang tolol di depannya. Ia akan tertawa jika aku mengutarakan perasaanku.

Ehm, ibu andai engkau tau aku mengagumi lebih dari perasaan murid pada gurunya tapi aku mengangumimu layaknya seorang lelaki yang mendambakan seorang perempuan cantik serti ibu.

***

Pulang sekolah biasanya aku langsung pulang ke rumah tapi entahlah hari ini aku pengen mampir ke toko buku yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Dipikir-pikir aku sudah lama ngga’ ke sana. Akhirnya dengan baju seragam yang masih melengkat di badanku aku pergi ke toko itu untuk mencari koleksi buku-buku terbaru terutama tentang biografi para orang-orang sukses.

“Ngga’ pulang dre,?” suara lembut perempuan mengagetkanku. Itu tak lain adalah Ibu cantik itu.

“Eh, ibu ke sini juga. Ini bu, lagi nyari buku ja.” Dengan wajah yang masih terasa kagetnya. Tida aku sangka sebelumnya ternyata ibu ini sering berlangganan juga di toko buku ini.

“Nyari buku apa bu?” pertanyaanku hanya untuk basa-basi membuang suasana hening sedari tadi.

“Saya lagi nyari buku biografi” buku yang tak lain adalah buku yang sedang aku cari juga.

“Ibu juga suka membaca tentang biografi? Kebetulan bu, sekarang saya juga lagi nyari buku itu” aku bicara seakan kegirangan karena tak pernah di duga ibu ini memiliki sedikit kesamaan denganku.

“ Sebenarnya ibu nyari buku tersebut buat kado untuk seseorang” jawaban yang sudah meruntuhkan kebahagian yang baru saja aku rasakan. Pastinya buku itu untuk orang yang special. Tanpa berfikir untuk menanyakan lebih banyak lagi tentang sapa sosok itu aku langsung berpamitan dan menghilang dari hadapannya.

***

“Nak, itu ada ibu guru di luar.!” Ibu ku menyambangiku ke kamar memberi tahu kalau ada tamu yang tak lain adalah guru di sekolahku. Tanpa tau sapa guru itu, aku langsung beranjak menemui tamu tersebut. Di ruang tengah aku sudah terlihat perempuan cantik yang lagi duduk di depan rumah. Itu adalah Bu Nadia.

“Ada keperluan apa ibu datang kerumahku?”

“Dari mana dia tau alamat rumahku?” pertanyaan itu seakan sesak mengisi otakku. Dan belum sempat aku mencari tau atas pertanyaan yang membingungkan itu terdengar orang manggil salam dari arah halaman depan rumahku.

“Sudah lama nunggu, sayang?, maaf sudah membuatmu menunggu” suara itu terdengar di depan rumah yang tak lain adalah kakakku yang baru pulang dari malang kota dimana dia melanjutkan kuliah S2. Pelukan hangat yang sarat akan kerinduaan pun menjadi pemandangan yang begitu menyayat hati.

Read More......

21 Agustus 2009

1 Tahun Bersamamu

“Cinta tidak menyadari kedalamanya, Sampai ada saat perpisahan.”

-Kahlil Gibran-

Dua hari lagi akan aku ungkap meski menyakitkan. Tak penting lagi, memikirkan apa reaksimu karena sungguh rasa bersalah itu tak juga hilang. Satu tahun bersamamu tanpa cinta yang mestinya ku berikan untukmu membuatku terbelenggu bersama rasa ini. Tapi, kelegaan atas pembebasanku dari perasaan ini dua hari lagi tepat disaat kau dan aku bersama.

Kau dengan kebaikanmu tak mungkin begitu saja dapat terlupakan. Orang yang ku rasa tak pantas untuk dipermainkan. Kesabaran yang luar biasa menurutku, saat kau bersusah payah meredam amarahku yang sudah tak terhitung lagi untuk kesekian kalinya ku memakimu tanpa kau tahu apa salahmu dan tanpa kau mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kau yang teramat khawatir ketika melihatku tak berdaya menahan rasa sakit pada kakiku yang waktu itu luka karena aku tergelincir. Kaulah yang tak henti menyirami kesejukan dalam setiap keresahan yang ku rasakan. Mencoba untuk melucu meski kau tahu itu tak lucu namun kau terus bergaya seperti badut yang tak lain dalah uasahamu untuk bisa membuatku tertawa.

Tapi, aku sudah memikirkan apa yang akan aku lakukan pada saatnya. Yakin inliah yang mestinya ku lakukan.

***

Dering HP membangunkanku dari tempat tidur, meski setengah hati untuk membuka pesan yang baru masuk itu. “Besok aku jemput jam 8 ya..” isi pesan yang ternyata jam dimana aku dan kau akan jalan-jalan ke tempat yang terlalu sering kita kunjungi tanpa pernah bosan menggoda kita. Tanpa berfikir untuk memnbalasnya aku kembali membaringkan badanku yang dari tadi sudah kehabisan tenaga karena seharian di kampus dengan tugas yang terus menganiaya pikiran tanpa mengenal sapa dan bagaimana mahasiswanya bersusah payah menyelesaikannya.

Aku membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kata-kata seakan telah mantap ku rangkai dan siap untuk ku ucapkan tanpa memikirkan apa reaksimu dan bagaimana setelah semua berlalu.

“Aku pasti bisa!” suara hatiku meyakinkan.

Aku terus membolak-balikkan tubuhku, kesunyian malam yang terus menyelinap tetap tak dapat membuatku tertidur. Keresahan yang semestinya menjadi kebahagian, dan aku pun tidak bisa menemukan jawaban atas semua yang terjadi malam ini. Tak mungkin aku keluar dari kamarku angin terlalu dingin untuk dinikmati. Dengan lampu kamar yang sudah sedari tadi aku matikan mestinya bisa membantuku mengatasi ini, namun tetap saja itu tak berguna.

***

Pagi menyapa dan tiada yang ku leawatkan untuk sekedar menikmati keindahannya. Seteguk teh hangat membatuku untuk menghangatkan tubuh yang ku rasa hari ini terasa dingin. Sang surya masih tampak kemerahan dan belum sepenuhnya memamerkan cahanya yang akan teramat panas di atas jam 12. Nyanyian- nyanyian ku lantunkan dengan menggoyangnkan tubuh ke kanan dan ke kiri seolah mengikuti alunan lagu yang ku dengar dari radio.

“Lagu favoritku diputar” gumamku ketika mendengar lagu.

Lagu rindu dari kerispatih, sedikit menyinggung akan apa yang aku rasakan. Aku tak memungkiri seminggu tanpa kontak, kerinduan itu menghampiriku.

Taukah engkau wahai langit

Ku ingin bertemu membelai wajahnya

Ku pasang hiasan angkasa yang terindah hanya untuk dirinya.

Lagu rindu ini kuciptakan

Hanya untuk bidadari hatiku tercinta

Walau hanya nada sederhanya

Izinkanku ungkap segenap rasa dan kerinduan

Potongan bait yang bisa menjadi suara hati yang mungkin tak ingin ku rasakan, tapi apalah dayaku rasa rindu itu kini benar-benar memaksa hati untuk merasakannya. Terdengar aneh menurutku, mengingat selama ini perasaan itu tak sedikit pun mampu goyahkan hati akan sosok lain yang lebih berarti buatku dan itu bukanlah dirimu. Namun, apa pun itu ku tetap memanjakan hatiku untuk sejenak merasakannya.

Dua jam berlalu, dan aku telah siap dengan baju biru yang menjadi kesukaanku. Pagi ini aku memakainya untuk menikmati hari yang mungkin membebaskanku dari rasa bersalahku. Dengan kerudung putih yang terlihat sempurna dengan bros bintang warna biru yang tak lain adalah pemberianmu. Jam tanganku tepat mengarahkan jarumnya ke angka delapan dan dua belas. Tidak ada tanda-tanda bahwa kau telah datang. Dengan HP yang masih tergeletak di meja, aku mencoba meraihnya dan menggoyangkan jempolku menekan tombol dari rangkain huruf yang menempel di atasnya. Tak lama, aku siap mengirim pesan itu dan nomor yang aku tuju tak lain adalah nomormu.

“Assalamu’alaikum!" kedengeran suara manggil salam dan aku yakin pasti kau sudah menunggu di luar.

“Wa’alaikum salam" jawabku dengan kaki yang melangkah keluar dan aku sudah di depanmu.

“Kita berangkat sekarang!”.

“ya!”.

Tak berapa lama kau dan aku sudah berada di tempat yang sudah kau janjikan. Beberapa menit berlalu tanpa ada suara.

“Angka satu, aku dan kau melewatinya” kau memulainya

“Aku minta maaf” kata yang terdengar sebuah penyesalan.

“Maaf, kalau selama satu tahun ini aku teramat memnyusahkanmu”

Dengan wajah yang tak mengerti akan apa yang aku ucap kau mencoba bertanya “Bisakah kau mengatakannya selain itu?”

Tentu aku paham dengan kebingunganmu, tapi dengan tatapan yang tak berani ku palingkan untuk sekedar menatapmu aku melanjutkan ucapanku. Ucapan yang mungkin tak pernah kau duga dan aku tahu kalau itu terdengar begitu menyakitkan. Mengingat ini bukanlah hal untuk memutuskan jalinan dan semestinya ini adalah hari untuk mengenang lagi yang pernah terjadi. Kelucuan dan kemarahan yang tak lepas dari cerita kau dan aku.

“Aku bisa nerima bila ini kemauanmu sekarang” kata yang tak pernah ku duga yang kau ucap.

Sekarang dgiliranmu yang terlalu banyak bicara. “Aku sudah tau hubungannya kau dan dia” kata-kata yang lebih tak terduga kau ucapkan lagi.

Kebohongan yang selama satu tahun ini, aku kira kau tak pernah mengetahuinya kini terungkap di hadapanmu. Kau yang terkejut, semestinya. Tapi, nyatanya aku yang kau buat seolah tak berdaya atas semua pengkhianatan ini. Aku yang diam-diam jalan dengan temanmu yang tak lain adalah orang yang nyomblangin kau dan aku. Dan kau yang juga diam-diam mengetahuinnya dan selama itu juga kau berusaha untuk menghapus cintamu untukku. Kini tangisan yang ku kira tangisan yang tak lebih dari penebusan rasa bersalahku selama ini tlah jadi air mata kehilangan.

Semudah itukah kau lupakanku, mungkin pertanyaan itu terlalu egois mengingat selama ini tak sedikitpun cinta yang ku tanamkan di hati untukmu. Inikah caramu membalasnya. Kini dalam pelukmu ku tumpahkan segenap kepedihan yang ku rasa selama ini tak akan ku rasakan meski harus berpisah denganmu. Dan sekarang jadi tangis penyesalan karena hati terlanjur berat untuk menerima semua ini. Dalam tangisku ku sisipkan benih cinta yang tak ku kira ada dan hatiku kini merasakannya. Cinta yang mestinya sejak dulu aku merasakannya sehingga tak kan sedikitpun ku berfikir untuk mengkhianatimu tapi apa yang kini terjadi.

“Tidakkah tersisa cinta dihatimu untukku?”

“Rasa sakit hati terlanjur mengubur cinta untuk kamu” dengan isak tangis kau menjawab.

Entah, air mata itu pertanda apa. Aku mencintaimu dan mungkin ini terdengar konyol atas apa yang sudah ku lakukan tapi sungguh kini sedihku tak lain karena aku mencintaimu dan tak rela bila kini benar kau sudah melupakanku. Wanita itu, jelas ia tak salah. Mungkin dia mampu memberikan apa yang kau harapkan dariku. Sekejam inikah aku dulu, hingga tak sedetikpun aku dikasih kesempatan untuk kembali bertahta dalam hati dan merajai benakmu.

“Jadikan aku kenangan indahmu” permintaan yang tak semestinya dan tak mungkin.

“Apa pun yang terjadi, kau tetap orang yang dulu pernah membahagiakanku.”

“Terima kasih”.

Ucapan yang tak semestinya dan tak pantas ku dapatkan.

Dengan tatapan yang seakan mohon belas kasihmu, aku menatap sendu matamu yang tak lagi bisa ku rasakan bahagia. Yang tersisa kini hanya sedikit kerelaanku berharap kau akan bahagia bersamanya.

“Aku mencintaimu” kata yang ku rasa terlambat untuk diucapkan.

“Aku sayang kamu dan akan relakan kasih ini untuk menyayangimu layaknya adik sendiri” dengan lembut kau mengusap air mataku.

Sentuhan yang tak akan ku rasakan lagi sebagai sentuhan seorang kekasih. Bahagiakanlah dia dan lakukan apa yang mestinya kau berikan untuknya. Kata yang terlalu bijak mengingat aku pun tak bisa melakukannya.

***

Hari-hari kini ku lalui dengan rasa hampa.

Dan pada akhirnya hanya sesalku yang tersisa menemani cinta yang terlambat untukku sadari.

Read More......

20 Agustus 2009

JANGAN BENCI AYAHMU, NAK…!!

Pagi yang sama selalu terulang, 17 tahun ku sambut dengan desiran lirih angin pagi yang beradu dengan butiran embun menyejukkan. Ku pergi ke taman belakang rumah, terhampar tanaman yang memanjakan mata, disana terlihat ibuku yang lagi sibuk dengan pekerjaannya. Setiap pagi ia sempatkan untuk selalu memeriksa kondisi berbagai tanaman yang tak terlalu penting menurutku.

“Selamat pagi buk…!” sapaan yang tak pernah bosan ku ucapkan. Ayo pulang..!! aku mencoba untuk menghentikan pekerjaannya.

“Sebentar lagi, nak! Kalo kamu udah ngerasa laper, sarapannya sudah ibu siapkan di atas meja makan” jawabnya dengan senyum yang selalu akan jadi semangatku untuk mengarungi hidup yang tak lagi bermakna buatku.

Dengan pakaian seragam putih abu-abu yang sebentar lagi akan aku abadikan di lemari, aku udah siap untuk berangkat menuju sekolah yang mereka anggap tempat favorit, tapi kayaknya terlalu berlebihan untuk sekolah yang hanya memelihara murid-murid yang pantasnya menjadi foto model.

“Assalamu’alaikum…!!!” pamitku,

“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan!!” pesan yang selalu sama yang terselip doa mengiringi langkahku mencari ilmu yang diharapkan mampu mengubah nasibku.

Dengan sepeda tua yang mestinya sudah jadi barang rongsokan tapi tetap aku pakai sebagai kendaraanku ke sekolah, ku taklukkan jalan yang entah berapa jumlah belokannya dan batu kerikil yang mencobahentikan semangatku mengayuh.

***

“Pagi pak..!” aku menyapa security, orang yang selalu datang pertama ke sekolah.

“Pagi bener kamu datangnya hari ini”. Jawabnya dengan gurauan, yang ia tau biasanya akulah murid yang yang terlihat paling akhir datang ke sekolah, dan karena itu juga aku bisa kenal dengan pak puji nama panggilnya. Tiap aku telat, keluarlah rayuan dan bujuka-bujukan yang aku harapkan bisa meluluhkan hati pak satpam itu buat bukain pintu pager sekolah yang mestinya jam 7 kurang seperempat harus terkunci.

“pagi ini sepedaku lagi ga’ rewel pak,” aku menjawab candaan itu sambil menempatkan sepeda ku di tempat paling pojok di parkiran biar pulangnya gampang di keluarin.

“Aku ke kelas dulu pak…!” teriakku sambil jalan dengan menatap tempat pak puji yang lagi duduk santai dengan kepulan asap rokok yang terlihat keluar dari bibirnya yang se akan tertutupi oleh kumisnya itu.

***

“Keluarin selembar kertas, dan masukkan buku-buku kalian..!” kata guru matematika yang tak pernah aku dan anak-anak yang lain harapkan, tapi bukan pak darto namanya kalo ngga’ pernah ngasih kejutan tiap pertemuan jam mata pelajarannya dengan mengadakan ulangan atau pre test tanpa pemberitahuan sebelumnya.

“Bagi yang ketauan menyontek akan dikurangi 50%” ancaman yang sangat ampuh buatku dan murid yang lain untuk mengerjakan soal-soal itu sendiri.

Kertas mulai dibagikan, terlihat angka-angka yang teramat jlimet untuk dijumlahkan dengan berbagai macam rumus yang pernah ia ajarkan. Pelajaran yang kali ini di ujikan adalah tentang trigonometri dan setau aku cuma tiga kata yang merupakan rumus umum materi tersebut yaitu “sin, cos, tan” . waktu 60 menit terasa sangat cepat dalam mengerjakan 10 soal ujian. Alasan klasik yang terkandung dalam pengadaan pre test, guru-guru bilang katanya bertujuan untuk melihat kemampuan siswa menyerap pelajaran yang sudah di ajarin sebelumnya. Mungkin itulah sebabnya pak darto ngga’ pernah bosan untuk memberikan ujian pada murid-muridnya.

“Ini ulangan terakhir untuk kalian, minggu depan kalian akan menghadapi ujian akhir semester(UAS) yang nantinya akan di susul dengan UAN” kata-kata terakhir yang pak darto ucapkan sebelum ia keluar dari ruangan kelas.

***

Bu rika membagikan surat undangan yang ditujukan untuk kedua orang tua murid. Surat itu tak lain adalah acara perpisahanku dengan teman-teman yang lain kelas XII, dan acara ini di adakan setelah satu minggu pengumuman kelulusan UAN. Alhamdulillah, semua murid di sekolahku lulus. Dengan wajah summringah teman-temanku menerima surat perpisahan ini kecuali aku yang kenyataannya tidak akan mungkin datang dengan ayah.

“Usahain Ibumu datang ke acara ini ya!” suara ibu Rika memecahkan lamunanku akan sosok ayah.

Iya bu..!! jawabku dengan nada yang hampir tak terdengar.

Bu Rika tau keadaan keluargaku. Dari kecil aku hanyalah seorang anak tunggal yang ngga’ pernah sekalipun mencicipi kecupan sayang seorang ayah yang selalu teman-temanku rasakan. Dan bu Rika adalah orang yang selama ini ikut membantu membiayai sekolahku, tentunya dengan beasiswa juga. Kebetulan aku bebas bayar SPP cuman untuk keperluan sekolah yang lainnya aku sering di bantuin sama ibu Rika yang tak lain adalah sahabat ibuku dulu waktu sekolah.

***

Malam perpisahan yang mengharukan, aku menyalami guru-guru secara giliran dengan murid yang lain. Mereka yang sibuk dengan gaya ini itu untuk mengabadikan malam yang mungkin akan jadi terkhir buat mereka untuk berstatus sebagai murid SMA dengan ibu dan ayah yang setia mendampingi disamping mereka, dan aku cuma duduk berdua dengan ibuku di tempat yang aga’ mojok.

“Mereka datang dengan ayahnya”, suaraku seakan mengemis untuk segera ditemenin ayah.

Ibu mencoba menghiburku, tapi itu tidak akan merubah suasana hatiku yang terlanjur membenci ayahku. Karena aku tau perjuanngan ibu yang merawatku seorang diri. Ibu yang teramat aku cintai dan karenya pulalah aku mempunyai secercah harapan untuk tetap mengarungi hidup ini. Karena kehidupan keluargaku yang single parent, ibu sering di omelin tetangga dan selalu menjadi bahan omongan dimana kalau yang namanya janda akan mencoba menggoda suami-suami mereka. Tapi ibuku menanggapinya dengan perasaan tenang, baginya tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya untuk mencari pengganti ayah. Ayah yang aku benci tapi ibu selalu bilang kalau ayahku adalah orang yang paling berarti dalam hidupnya.

“Jangan benci ayahmu, Nak!” kata yang masih terdengar tulus meskipun aku kira ia udah terlanjur disakiti.

“Ayah, yang sudah menjadikan hidup kita melarat kayak gini bu.!” Aku mencoba cari alasan untuk tetap membenci sosok ayahku yang sebenarnya aku rindukan kehadirannya.

Dan Ibu tetap meyakini kalau Ayah adalah pahlawan hidup kami. Dengan cucuran air mata ibu menceritakan apa yang sudah ayah lakukan yang selama ini tidak pernah ia ceritakan. Ayah yang selamana ini tidak aku ketahui bagaimana sosoknya tak lain adalah sosok seorang suami yang rela mennjual ginjalnya demi biaya persalinan Ibu waktu melahirkanku tentunya. Aku yang terlahir dengan operasi sesar menurut cerita ibu, memerlukan biaya yang tidak akan pernah sanggup ditembus mengingat ayah dan ibu hanya seorang petani biasa. Dan hal yang tidak pernah ayah bicarakan dengan ibu sebelumnya dilakuinnya demi kelahiran anak yang nantinya ia harapkan akan menjadi orang hebat yang mampu mengubah nasib keluarga dan demi cintanya kepada seorang istri. Tapi Tuhan punya rencana sendiri meski terkadang tak sesuai dengan keinginan manusia, satu minggu setelah proses kelaharianku ayah meninggal dunia. Ia belum sempat melihat aku tumbuh besar dan menjadi orang yang ia harapkan.

“Ayah, semoga ayah tenang disisiNya.”Do’aku

“Akan aku buktikan, aku bisa menjadi anak yang bisa menbanggakan Ibu dan Ayah tentunya disana”. Harapanku

Read More......
Don't click here!